Investasi domba sebenarnya gampang-gampang susah. Gampang karena secara kultur di Indonesia, terutama di daerahku di Pati Jateng, domba ato kambing relatif mudah dipiara. terutama kalau mau memanfaatkan 'kearifan lokal' setempat dalam hal memelihara domba. Secara kompetensi, banyak petani di daerah ini yang mahir memelihara kambing. Pun, supply chain kambing tsb juga sudah terbentuk. Mulai dari ketersediaan pakan, pasar jual beli kambing, semua sudah terbentuk secara natural, entah sejak kapan. Susah, karena memang tidak gampang mencari tempat berinvestasi yang amanah atau terpercaya.
Kalau menurut ust Muhaimin Iqbal dalam geraidinar.com, ada 3 sumber daya yang perlu ada untuk suatu bisnis di bidang peternakan atau pertanian ini bisa terbentuk, yaitu market, skill, dan modal. Nah, penjelasan diatas sudah cukup menggambarkan ketersediaan market & skill. Kali ini kita akan coba bahas masalah modal.
Menurut Biro Humas Provinsi Jawa Tengah, dari http://www.promojateng-pemprovjateng.com/detail.php?id=2583 populasi kambing di Pati sekitar 139.433 ekor dengan jumlah peternak sebanyak 34.228 orang. Artinya rata-rata kepemilikan kambing tiap orang adalah 4,07 ekor kambing tiap peternak. Suatu jumlah yang sangat kecil. Padahal yang saya tahu, ada juga di daerah tersebut yang punya sampai puluhan kambing. Jadi kemungkinan besar ada juga peternak yang hanya punya 1 atau 2 kambing saja.
Kalau saat ini harga jual kambing sekitar 2 jutaan dari tangan peternak, berarti rata-rata mereka 'hanya' punya aset ternak kambing sekitar 8 juta saja. Memang hampir semua peternak yang saya tahu, tidak menggantungkan ekonomi keluarganya dari kambing ini saja. Kambing adalah usaha sampingan keluarga, karena saking gampangnya buat mereka memeliharanya.Pengamatan saya dari tetangga kanan kiri yang cuma punya 4-5 ekor, tapi mampu menyekolahkan anaknya sampai kuliah, sudah banyak contoh. Tapi ya gitu..secara ekonomi memang pas-pasan saja.
Banyak website yang membahas seluk beluk investasi di sektor ini sangat menggiurkan, namun juga tidak sedikit yang mengatakan sebaliknya. Kita akan bahas lain kali.
Mengapa Investasi doang? ini yang akan kita bahas
#1. Beternak kambing perlu skill khusus.
Sekalipun kita sering baca di google, tapi tetap saja kalau langsung beli kambing, terus piara sendiri, yakin deh kambing nggak akan terurus. sokur-sokur kalau nggak mati tuh kambing.Ya udah, cari aja orang yang mau piara kambing, trus bicara pembagian hasilnya mau kayak apa.
#2. Pemberdayaan warga desa
Sebagian peternak kecil punya skill memelihara kambing. Namun belum tentu mereka punya modal cukup untuk beli kambing lagi. Banyak diantaranya piara kambing ini untuk menabung. Suatu saat punya keperluan, yaa jual saja kambingnya.
Maka pola partnering adalah pola yang tepat sama-sama menguntungkan.
#3. Efek tidak langsung
Kayak aku, dengan invest ternak kambing, bisa minta peternaknya ambil daun sengon di kebunku (alhamdulillah udah punya kebun sengon), jadi dia dapat pakan kambing, aku dapat tanaman sengon yang cabangnya dipotong.
Belum kalau kita bicara efek ekonomi lain, kayak penjualan kotoran, kulit, dsb..
Udah itu dulu, insya Allah disambung lain kali.