Bagi orang yang tinggal di perkotaan, hampir gak mungkin kita buka usaha ternak kambing di kota. Coba kebayang kan repotnya kita dikomplain tetangga kanan kiri karena bau kambing & kotorannya.
Mungkin beberapa pengecualian kalau penduduk asli tempatku tinggal di Bekasi kota. Itupun karena waktu mereka tinggal disini, belum banyak tetangga di kanan kiri, masih banyak tanah kosong.
Piara kambing jadi satu hal yang menjanjikan waktu itu. Pakan hijauan diambil dari rumput di tanah-tanah kosong yang masih banyak, sehingga suplai pakan kambing terjaga.
Tapi kini, sebagian besar tanah kosong itu sudah ganti pemilik, termasuk tanah yang aku tinggali sekarang ini, dan tentu sah-sah saja pemilik barunya membangun rumah ato bangunan apapun disitu Habislah lahan yang dulu ditanami rumput buat pakan kambing. Satu dua pemilik kambing makin kesulitan untuk ngasih pakan, dan tinggal tunggu waktu untuk dijual saja kambing itu.
Pemilik Jonggol Farm di Jonggol (Pak Muhaimin Iqbal - geraidinar.com) pernah nawarin bisnis yang cukup unik, yaitu penjualan susu kambing. Dengan cara timnya akan naruh 1 kambing yang lagi nyusuin di rumah kita, kita perah & jual di sekitar kita. Ntar kalau susunya makin nyusut, akan diganti lagi dengan kambing menyusui lagi. Begitu dst. Tapi satu catatan beliau, harus ada lisensi dari tetangga kanan kiri akibat bau kambing & kotorannya !! Dan ini syarat yang sangat sulit buat penduduk perkotaan..
Lantas, apa yang bisa kita lakukan ??
#1. Yaa, investasi kambing saja tetap dilakukan, tapi kambingnya bukan lagi di kota..
Cari tetangga ato teman di kampung yang amanah, nitip kambing ke dia
Di kampung yang agak nun jauh dari kota, dan penduduknya welcome dengan ternak kambing. .
#2. Ikut pola kemitraan
Banyak pola kerjasama investasi kambing yang ditawarkan dengan sistem
bagi hasil penjualan atau bagi kambing. Googling aja. Kawatir kalo aku
rekomendasi, ntar nggak amanah, aku di komplain balik, hehehe. Tinggal pilih, kambing penggemukan, breeding, ato kambing perah..
Rata-rata imbal hasil yang ditawarkan akan menarik. Karena secara natural, insya Allah bisnis ini memang didesain bisa untung besar. Tapi ya itu, high risk high rizki, hee.. Kendala terbesarnya, orangnya nggak amanah. Ntar dibilang matilah, nggak gemuk-gemuk lah,makanya jangan main terlalu banyak dulu. ya 10 ato 20 lah buat awalan..
Semoga sukses..
Wassalam..
31 Mei 16
Senin, 30 Mei 2016
Minggu, 29 Mei 2016
Organik.. dan Insya Allah tetap organik
Hari ini aku amati sedang terjadi perang pengaruh antara pertanian konvensional dengan organik. Masing-masing menjanjikan hasil yang paling optimal.
Lihat saja iklan di website masing-masing. Standar saja, dalam iklan, pasti mengklaim paling bagus diantara lainnya.
Ini yang aku dapat dari wikipedia..
Senyawa organik adalah golongan besar senyawa kimia yang molekulnya mengandung karbon, kecuali karbida, karbonat, dan oksida karbon. Studi mengenai senyawaan organik disebut kimia organik. Banyak di antara senyawaan organik, seperti protein, lemak, dan karbohidrat, merupakan komponen penting dalam biokimia.
Di antara beberapa golongan senyawaan organik adalah senyawa alifatik, rantai karbon yang dapat diubah gugus fungsinya; hidrokarbon aromatik, senyawaan yang mengandung paling tidak satu cincin benzena; senyawa heterosiklik yang mencakup atom-atom nonkarbon dalam struktur cincinnya; dan polimer, molekul rantai panjang gugus berulang.
Pembeda antara kimia organik dan anorganik adalah ada/tidaknya ikatan karbon-hidrogen. Sehingga, asam karbonat termasuk anorganik, sedangkan asam format, asam lemak pertama, organik.
Nama "organik" merujuk pada sejarahnya, pada abad ke-19, yang dipercaya bahwa senyawa organik hanya bisa dibuat/disintesis dalam tubuh organisme melalui vis vitalis - life-force.
Kebanyakan senyawaan kimia murni dibuat secara artifisial.
ahh, bingung, banyak nggak ngertinya. Jadi, senyawa organik dibentuk dari tubuh organisme. Kira-kira begitulah. Dan inilah kenapa aku dalam perjalanan bertani ini ingin mengembangkan segala sesuatu di pertanian secara organik pula. Lebih sehat & aman buat tubuh ini..
Dulu ketika aku masih kecil, suka mancing di kali. Umpan cari dulu di pinggir sawah. selalu di pinggir sawah, banyak dijumpai 'unthuk' cacing, berupa gumpalan (konon) kotoran cacing. Itu jadi tanda, kalau di sekitar situ banyak cacingnya. Udah, tinggal digali saja pake tangan, dan kita dapet tuh cacing. Paling sering diomelin sama yang punya sawah. Katanya cacing itu bisa menyuburkan sawah mereka. Kalau diambil, maka penyuburnya jadi berkurang juga.. hmm.. masuk akal juga. Tapi yang namanya bocah, ya kucing-kucingan sama petani untuk nyari cacing.
Itu cerita dulu. Sekarang, banyak sawah yang kalau kita cari cacing disitu, udah gak ada lagi. Penyubur (baca:pupuk) udah pake kimia semua. Mulai dari urea, npk, za, dll dll. banyak banget lah. Dan ternyata, hadirnya pupuk kimia itu, jadi salah satu sebab cacing-caing itu pergi.
Terlalu banyak sumber yang bisa kita baca kalau pupuk kimia punya efek negatif. Bahkan pernah baca juga yang berefek ke atmosfer.. bisa jadi sih..
Itu kalau kita bicara olah tanah dengan pola organik & kimia. Sekarang bicara masalah hasil panen-nya.
Memang Allah kasih hewan-hewan sense mencari jenis makanan yang lebih baik bagi dirinya, jauh lebih baik daripada sense-nya manusia. Itu jadi salah satu indikator, bahwa kalau hewan mau makan, berarti aman buat manusia. Misalnya kalau jenis sayuran sebagian dimakan ulat, berarti sayur tersebut bagus juga buat kita, karena ulat saja mau makan. Itu kenapa istriku sering cari sayur yang sebagian udah dimakan ulat. Meski ada juga cara baru budidaya yang menggunakan pestisida organik atau memang ada perlakuan saat budidaya, misal di tutup jaring sehingga hama tidak bisa mendekat.
Yahh, itulah sekelumit niat untuk mengembangkan pertanian, perkebunan, dll dalam bentuk organik.
Sekecil niat kita, pasti bernilai besar di hadapan Allah kalau kita sertai juga dengan usaha, meski kecil juga, tapi terus menerus
Lihat saja iklan di website masing-masing. Standar saja, dalam iklan, pasti mengklaim paling bagus diantara lainnya.
Ini yang aku dapat dari wikipedia..
Senyawa organik adalah golongan besar senyawa kimia yang molekulnya mengandung karbon, kecuali karbida, karbonat, dan oksida karbon. Studi mengenai senyawaan organik disebut kimia organik. Banyak di antara senyawaan organik, seperti protein, lemak, dan karbohidrat, merupakan komponen penting dalam biokimia.
Di antara beberapa golongan senyawaan organik adalah senyawa alifatik, rantai karbon yang dapat diubah gugus fungsinya; hidrokarbon aromatik, senyawaan yang mengandung paling tidak satu cincin benzena; senyawa heterosiklik yang mencakup atom-atom nonkarbon dalam struktur cincinnya; dan polimer, molekul rantai panjang gugus berulang.
Pembeda antara kimia organik dan anorganik adalah ada/tidaknya ikatan karbon-hidrogen. Sehingga, asam karbonat termasuk anorganik, sedangkan asam format, asam lemak pertama, organik.
Nama "organik" merujuk pada sejarahnya, pada abad ke-19, yang dipercaya bahwa senyawa organik hanya bisa dibuat/disintesis dalam tubuh organisme melalui vis vitalis - life-force.
Kebanyakan senyawaan kimia murni dibuat secara artifisial.
ahh, bingung, banyak nggak ngertinya. Jadi, senyawa organik dibentuk dari tubuh organisme. Kira-kira begitulah. Dan inilah kenapa aku dalam perjalanan bertani ini ingin mengembangkan segala sesuatu di pertanian secara organik pula. Lebih sehat & aman buat tubuh ini..
Dulu ketika aku masih kecil, suka mancing di kali. Umpan cari dulu di pinggir sawah. selalu di pinggir sawah, banyak dijumpai 'unthuk' cacing, berupa gumpalan (konon) kotoran cacing. Itu jadi tanda, kalau di sekitar situ banyak cacingnya. Udah, tinggal digali saja pake tangan, dan kita dapet tuh cacing. Paling sering diomelin sama yang punya sawah. Katanya cacing itu bisa menyuburkan sawah mereka. Kalau diambil, maka penyuburnya jadi berkurang juga.. hmm.. masuk akal juga. Tapi yang namanya bocah, ya kucing-kucingan sama petani untuk nyari cacing.
Itu cerita dulu. Sekarang, banyak sawah yang kalau kita cari cacing disitu, udah gak ada lagi. Penyubur (baca:pupuk) udah pake kimia semua. Mulai dari urea, npk, za, dll dll. banyak banget lah. Dan ternyata, hadirnya pupuk kimia itu, jadi salah satu sebab cacing-caing itu pergi.
Terlalu banyak sumber yang bisa kita baca kalau pupuk kimia punya efek negatif. Bahkan pernah baca juga yang berefek ke atmosfer.. bisa jadi sih..
Itu kalau kita bicara olah tanah dengan pola organik & kimia. Sekarang bicara masalah hasil panen-nya.
Memang Allah kasih hewan-hewan sense mencari jenis makanan yang lebih baik bagi dirinya, jauh lebih baik daripada sense-nya manusia. Itu jadi salah satu indikator, bahwa kalau hewan mau makan, berarti aman buat manusia. Misalnya kalau jenis sayuran sebagian dimakan ulat, berarti sayur tersebut bagus juga buat kita, karena ulat saja mau makan. Itu kenapa istriku sering cari sayur yang sebagian udah dimakan ulat. Meski ada juga cara baru budidaya yang menggunakan pestisida organik atau memang ada perlakuan saat budidaya, misal di tutup jaring sehingga hama tidak bisa mendekat.
Yahh, itulah sekelumit niat untuk mengembangkan pertanian, perkebunan, dll dalam bentuk organik.
Sekecil niat kita, pasti bernilai besar di hadapan Allah kalau kita sertai juga dengan usaha, meski kecil juga, tapi terus menerus
Rabu, 23 Maret 2016
Belajar investasi domba kambing
Investasi domba sebenarnya gampang-gampang susah. Gampang karena secara kultur di Indonesia, terutama di daerahku di Pati Jateng, domba ato kambing relatif mudah dipiara. terutama kalau mau memanfaatkan 'kearifan lokal' setempat dalam hal memelihara domba. Secara kompetensi, banyak petani di daerah ini yang mahir memelihara kambing. Pun, supply chain kambing tsb juga sudah terbentuk. Mulai dari ketersediaan pakan, pasar jual beli kambing, semua sudah terbentuk secara natural, entah sejak kapan. Susah, karena memang tidak gampang mencari tempat berinvestasi yang amanah atau terpercaya.
Kalau menurut ust Muhaimin Iqbal dalam geraidinar.com, ada 3 sumber daya yang perlu ada untuk suatu bisnis di bidang peternakan atau pertanian ini bisa terbentuk, yaitu market, skill, dan modal. Nah, penjelasan diatas sudah cukup menggambarkan ketersediaan market & skill. Kali ini kita akan coba bahas masalah modal.
Menurut Biro Humas Provinsi Jawa Tengah, dari http://www.promojateng-pemprovjateng.com/detail.php?id=2583 populasi kambing di Pati sekitar 139.433 ekor dengan jumlah peternak sebanyak 34.228 orang. Artinya rata-rata kepemilikan kambing tiap orang adalah 4,07 ekor kambing tiap peternak. Suatu jumlah yang sangat kecil. Padahal yang saya tahu, ada juga di daerah tersebut yang punya sampai puluhan kambing. Jadi kemungkinan besar ada juga peternak yang hanya punya 1 atau 2 kambing saja.
Kalau saat ini harga jual kambing sekitar 2 jutaan dari tangan peternak, berarti rata-rata mereka 'hanya' punya aset ternak kambing sekitar 8 juta saja. Memang hampir semua peternak yang saya tahu, tidak menggantungkan ekonomi keluarganya dari kambing ini saja. Kambing adalah usaha sampingan keluarga, karena saking gampangnya buat mereka memeliharanya.Pengamatan saya dari tetangga kanan kiri yang cuma punya 4-5 ekor, tapi mampu menyekolahkan anaknya sampai kuliah, sudah banyak contoh. Tapi ya gitu..secara ekonomi memang pas-pasan saja.
Banyak website yang membahas seluk beluk investasi di sektor ini sangat menggiurkan, namun juga tidak sedikit yang mengatakan sebaliknya. Kita akan bahas lain kali.
Mengapa Investasi doang? ini yang akan kita bahas
#1. Beternak kambing perlu skill khusus.
Sekalipun kita sering baca di google, tapi tetap saja kalau langsung beli kambing, terus piara sendiri, yakin deh kambing nggak akan terurus. sokur-sokur kalau nggak mati tuh kambing.Ya udah, cari aja orang yang mau piara kambing, trus bicara pembagian hasilnya mau kayak apa.
#2. Pemberdayaan warga desa
Sebagian peternak kecil punya skill memelihara kambing. Namun belum tentu mereka punya modal cukup untuk beli kambing lagi. Banyak diantaranya piara kambing ini untuk menabung. Suatu saat punya keperluan, yaa jual saja kambingnya.
Maka pola partnering adalah pola yang tepat sama-sama menguntungkan.
#3. Efek tidak langsung
Kayak aku, dengan invest ternak kambing, bisa minta peternaknya ambil daun sengon di kebunku (alhamdulillah udah punya kebun sengon), jadi dia dapat pakan kambing, aku dapat tanaman sengon yang cabangnya dipotong.
Belum kalau kita bicara efek ekonomi lain, kayak penjualan kotoran, kulit, dsb..
Udah itu dulu, insya Allah disambung lain kali.
Kalau menurut ust Muhaimin Iqbal dalam geraidinar.com, ada 3 sumber daya yang perlu ada untuk suatu bisnis di bidang peternakan atau pertanian ini bisa terbentuk, yaitu market, skill, dan modal. Nah, penjelasan diatas sudah cukup menggambarkan ketersediaan market & skill. Kali ini kita akan coba bahas masalah modal.
Menurut Biro Humas Provinsi Jawa Tengah, dari http://www.promojateng-pemprovjateng.com/detail.php?id=2583 populasi kambing di Pati sekitar 139.433 ekor dengan jumlah peternak sebanyak 34.228 orang. Artinya rata-rata kepemilikan kambing tiap orang adalah 4,07 ekor kambing tiap peternak. Suatu jumlah yang sangat kecil. Padahal yang saya tahu, ada juga di daerah tersebut yang punya sampai puluhan kambing. Jadi kemungkinan besar ada juga peternak yang hanya punya 1 atau 2 kambing saja.
Kalau saat ini harga jual kambing sekitar 2 jutaan dari tangan peternak, berarti rata-rata mereka 'hanya' punya aset ternak kambing sekitar 8 juta saja. Memang hampir semua peternak yang saya tahu, tidak menggantungkan ekonomi keluarganya dari kambing ini saja. Kambing adalah usaha sampingan keluarga, karena saking gampangnya buat mereka memeliharanya.Pengamatan saya dari tetangga kanan kiri yang cuma punya 4-5 ekor, tapi mampu menyekolahkan anaknya sampai kuliah, sudah banyak contoh. Tapi ya gitu..secara ekonomi memang pas-pasan saja.
Banyak website yang membahas seluk beluk investasi di sektor ini sangat menggiurkan, namun juga tidak sedikit yang mengatakan sebaliknya. Kita akan bahas lain kali.
Mengapa Investasi doang? ini yang akan kita bahas
#1. Beternak kambing perlu skill khusus.
Sekalipun kita sering baca di google, tapi tetap saja kalau langsung beli kambing, terus piara sendiri, yakin deh kambing nggak akan terurus. sokur-sokur kalau nggak mati tuh kambing.Ya udah, cari aja orang yang mau piara kambing, trus bicara pembagian hasilnya mau kayak apa.
#2. Pemberdayaan warga desa
Sebagian peternak kecil punya skill memelihara kambing. Namun belum tentu mereka punya modal cukup untuk beli kambing lagi. Banyak diantaranya piara kambing ini untuk menabung. Suatu saat punya keperluan, yaa jual saja kambingnya.
Maka pola partnering adalah pola yang tepat sama-sama menguntungkan.
#3. Efek tidak langsung
Kayak aku, dengan invest ternak kambing, bisa minta peternaknya ambil daun sengon di kebunku (alhamdulillah udah punya kebun sengon), jadi dia dapat pakan kambing, aku dapat tanaman sengon yang cabangnya dipotong.
Belum kalau kita bicara efek ekonomi lain, kayak penjualan kotoran, kulit, dsb..
Udah itu dulu, insya Allah disambung lain kali.
Langganan:
Komentar (Atom)