Minggu, 29 Mei 2016

Organik.. dan Insya Allah tetap organik

Hari ini aku amati sedang terjadi perang pengaruh antara pertanian konvensional dengan organik. Masing-masing menjanjikan hasil yang paling optimal.
Lihat saja iklan di website masing-masing. Standar saja, dalam iklan, pasti mengklaim paling bagus diantara lainnya.


Ini yang aku dapat dari wikipedia..
Senyawa organik adalah golongan besar senyawa kimia yang molekulnya mengandung karbon, kecuali karbida, karbonat, dan oksida karbon. Studi mengenai senyawaan organik disebut kimia organik. Banyak di antara senyawaan organik, seperti protein, lemak, dan karbohidrat, merupakan komponen penting dalam biokimia.
Di antara beberapa golongan senyawaan organik adalah senyawa alifatik, rantai karbon yang dapat diubah gugus fungsinya; hidrokarbon aromatik, senyawaan yang mengandung paling tidak satu cincin benzena; senyawa heterosiklik yang mencakup atom-atom nonkarbon dalam struktur cincinnya; dan polimer, molekul rantai panjang gugus berulang.
Pembeda antara kimia organik dan anorganik adalah ada/tidaknya ikatan karbon-hidrogen. Sehingga, asam karbonat termasuk anorganik, sedangkan asam format, asam lemak pertama, organik.
Nama "organik" merujuk pada sejarahnya, pada abad ke-19, yang dipercaya bahwa senyawa organik hanya bisa dibuat/disintesis dalam tubuh organisme melalui vis vitalis - life-force.
Kebanyakan senyawaan kimia murni dibuat secara artifisial.

ahh, bingung, banyak nggak ngertinya. Jadi, senyawa organik dibentuk dari tubuh organisme. Kira-kira begitulah. Dan inilah kenapa aku dalam perjalanan bertani ini ingin mengembangkan segala sesuatu di pertanian secara organik pula. Lebih sehat & aman buat tubuh ini..

Dulu ketika aku masih kecil, suka mancing di kali. Umpan cari dulu di pinggir sawah. selalu di pinggir sawah, banyak dijumpai 'unthuk' cacing, berupa gumpalan (konon) kotoran cacing. Itu jadi tanda, kalau di sekitar situ banyak cacingnya. Udah, tinggal digali saja pake tangan, dan kita dapet tuh cacing. Paling sering diomelin sama yang punya sawah. Katanya cacing itu bisa menyuburkan sawah mereka. Kalau diambil, maka penyuburnya jadi berkurang juga.. hmm.. masuk akal juga. Tapi yang namanya bocah, ya kucing-kucingan sama petani untuk nyari cacing.

Itu cerita dulu. Sekarang, banyak sawah yang kalau kita cari cacing disitu, udah gak ada lagi. Penyubur (baca:pupuk) udah pake kimia semua. Mulai dari urea, npk, za, dll dll. banyak banget lah. Dan ternyata, hadirnya pupuk kimia itu, jadi salah satu sebab cacing-caing itu pergi.
Terlalu banyak sumber yang bisa kita baca kalau pupuk kimia punya efek negatif. Bahkan pernah baca juga yang berefek ke atmosfer.. bisa jadi sih..

Itu kalau kita bicara olah tanah dengan pola organik & kimia. Sekarang bicara masalah hasil panen-nya.

Memang Allah kasih hewan-hewan sense mencari jenis makanan yang lebih baik bagi dirinya, jauh lebih baik daripada sense-nya manusia. Itu jadi salah satu indikator, bahwa kalau hewan mau makan, berarti aman buat manusia. Misalnya kalau jenis sayuran sebagian dimakan ulat, berarti sayur tersebut bagus juga buat kita, karena ulat saja mau makan. Itu kenapa istriku sering cari sayur yang sebagian udah dimakan ulat. Meski ada juga cara baru budidaya yang menggunakan pestisida  organik atau memang ada perlakuan saat budidaya, misal di tutup jaring sehingga hama tidak bisa mendekat.

Yahh, itulah sekelumit niat untuk mengembangkan pertanian, perkebunan, dll dalam bentuk organik.
Sekecil niat kita, pasti bernilai besar di hadapan Allah kalau kita sertai juga dengan usaha, meski kecil juga, tapi terus menerus


Tidak ada komentar:

Posting Komentar